Ketua KPK Firli Bahuri Terenyuh, Kenang Sosok Ibunda di Hari Ibu

oleh -38 views
Firli Bahuri saat memperingati hari ibu

JAKARTA-Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Drs. Firli Bahuri, MSi menceritakan sosok sang Ibu yang menjadi panutan, sekaligus sebagai penentu kesuksesan hidupnya hingga kini.

Peringatan Hari Ibu yang jatuh pada, Minggu, (22/12/2019), Firli menuturkan sedikit kisahnya saat bersama ibunda tercinta Tamah (Alm).

Komjen Pol. Drs, Firli Bahuri, MSi terlahir di sebuah kampung terpencil Desa Lontar Kecamatan Muara Jaya-OKU (8/11/1963), dari seorang Ibunda yang bernama Tamah dan Ayahanda bernama Bahuri, dan ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara.

Sebagaimana kehidupan di Desa Lontar, Firli Bahuri tumbuh dengan keterbatasan sarana publik namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk dapat berhasil sekolah layaknya anak-anak pada umumnya.

Diusianya yang ke 5 tahun Sang Ayah telah meninggalkan Firli dan keluarga untuk kembali kepada Sang Khaliq, dan hal tersebut menjadi masa-masa kelam bagi Firli beserta saudara lainnya.

Firli hidup dengan seorang Ibunda dan lima saudara lainnya yang sudah tidak memiliki Ayah menjadikan Firli mengenal apa itu kerja keras dengan sarat perjuangan keras. Namun semangat tak pernah luntur untuk menggapai cita-citanya.

Firli Bahuri menduduki jabatan sebagai Ketua KPK dan jabatan-jabatan sebelumnya, dirinya menganggap, hal itu dikarenakan bantuan doa yang selalu dipanjatkan ibunda semasa hidup.

Ibu adalah sosok yang sangat menentukan bagi perjalanan anak-anaknya dan bahkan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Pepatah itu punya makna implisit, bahwa langkah kaki ibu-lah yang menentukan nasib anaknya, kata Firli melalui pernyataan tertulis yang diterima media,  Minggu (22/12/2019).

Baginya, Ibunya yang telah wafat, merupakan wanita yang luar biasa selagi hidup. Dia mengaku beberapa sifat ibunya terutama ketika sedang marah kepada dirinya, itu menjadi bentuk kasih sayang, bukan omelan tanpa makna.

Baca Juga :   Dampak Virus Corona, ASN Diliburkan, SPJ di Stop Sementara

Saat Ibu marah ketika kita salah, cerewet jika teledor, banyak melarang, banyak aturan, itu sebenarnya bentuk kepedulian seorang ibu yang tak kenal lelah untuk menjaga, menyayangi dan mendidik anaknya, tutur Firli yang dilahirkan disebuah desa terpencil di Kecamatan Muara Jaya, Kabupaten OKU, Provinsi Sumsel.

Karirnya yang terbilang cemerlang, dia sebut sebagai doa ibu yang dikabulkan oleh Tuhan. Karena, sejak masih kecil, Firli mengaku kerap menjadi bagian dari doa yang tiada lelah dipanjatkan ibundanya kepada Sang Pencipta.

Sewaktu kecil di tengah malam, saya sering terjaga dari tidur dan melihat ibu sedang berdoa usai menjalankan ibadah sholat tahajut. Sayup-sayup terdengar nama saya disebut dalam doanya, ujarnya.

Firli memaknai peringatan Hari Ibu sebagai momentum berharga, bukan sekadar seremoni tahunan. Akan tetapi bagaimana seorang anak dapat memaknai esensi dan nilai dari pengorbanan seorang ibu, hingga pentingnya peran Ibu bagi masa depan suatu bangsa.

Masa depan suatu bangsa itu sebagian besar terletak pada kaum perempuan, karena peran ibu sangat penting dalam mendidik dan membentuk karakter seorang anak menjadi kuat, disiplin, jujur serta berakhlak mulia, yang ke depannya akan menjadi pemimpin bangsa, ujarnya.

Pahit manisnya kehidupan, roda-roda kehidupan yang terus berputar, Firli akui telah dilewatinya dengan segala keteguhan yang dia dapatkan dari seorang ibu.

Bagi saya ibu adalah segalanya, ibu sayalah yang mengenalkan saya dengan kenyataan hidup, tantangan dan dengan segenap peluangnya. Ibu selalu mengajarkan kepada apa arti kerasnya kehidupan dan hidup itu adalah perjuangan, pungkasnya (int/yudi).