
TAMBOV RUSIA-Masih ingat dengan nama Dio Rezza Baskara, SST (TD) dari Dinas Perhubungan OKU pada bulan Oktober 2018 lalu, yang menempuh pendidikan S2-nya di Negeri Tirai Besi, Beruang Putih (Rusia), Untuk yang berstatus ASN hanya ada 4 orang (1 dari OKU dan 3 dari Jakarta), sebagaimana penjelasan Sekda OKU Dr. H. Achmad Tarmizi diruang kerja beberapa bulan yang lalu.
Sekda OKU menjelaskan, Dio Rezza Baskara adalah PNS tugas belajar Program Master For Transport Process Tecnology pada Tambov State Technical University Russian Tahun 2018. Biaya perkuliahan sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Russia, Pemkab OKU membebaskan yang bersangkutan dari tugas dan pekerjaannya sehari-hari pada tempat kerja sebelumnya dan selama pendidikan, gaji dan penghasilan resmi lainnya dari yang bersangkutan tetap dibayarkan seperti biasanya, ujar Achmad Tarmizi,

Dilanjutkan Sekda Achmad Tarmizi, kepadanya diwajibkan untuk melaporkan secara priodik kemajuan belajarnya kepada Bupati OKU melalui Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kabupeten OKU. Kepada yang bersangkutan wajib menyelesaikan studi paling lama 3 tahun, dan apabila telah selesai pendidikannya wajib bekerja kembali pada Pemkab OKU sekurang-kurangnya 10 tahun.
Kabar terbaru, Dio yang biasa disapa kesehariannya, saat ini menghubungi Sekda OKU Achmad Tarmizi dan menginformasikan dari Rusia dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ia saat ini sedang melaksanakan fakultas persiapan bahasa atau dalam bahasa Rusia (Подготовительные факультет). Di kelas, Dio bergabung dengan berbagai mahasiswa di dunia, diantaranya dari Irak, Gabon, Algeria, Mesir, Syiria dan Dio sendiri satu-satunya dari Indonesia, ungkapnya.
Dari penuturan Dio melalui WA, untuk kegiatan Ibadah Alhamdulillah tidak ada masalah walaupun di kampus tidak ada Masjid atau Mushollah. Sehingga ia sholat mencari tempat di bawah tangga yang memang jarang dilalui oleh mahasiswa, selain itu untuk kegiatan sholat Jum’at karena hanya ada satu Masjid di kota Tambov dan perjalanan cukup jauh sekitar 45 menit menggunakan bus, ia terkadang harus sholat di kampus dengan beberapa teman dari negara Timur Tengah.

Untuk masalah makan, memang agak sedikit kesulitan dalam menemukan makanan halal, jadi harus teliti dalam membeli makanan. Akan tetapi, Alhamdulillah ia menemukan salah satu tempat khusus menjual makanan halal walaupun agak jauh sekitar 20-25 menit berjalan kaki, akan tetapi makanan di Rusia sangat berbeda dan ini memberikan “shock culture” bagi Dio, terutama rasanya yang hambar dan mereka tidak menyukai pedas, hampir semua makanan asli Rusia terasa hambar bagi saya.
Saat ini kendala yang dihadapi Dio adalah adaptasi dengan cuaca yg sangat ekstrim yaitu suhu dibawah minus 15 derajat. Ini membuat tidak nyaman, karena dengan suhu lebih dingin dari freezer kulit terasa kering dan sakit bahkan mati rasa. Salah satu tantangan bagi Dio yaitu proses pembelajaran bahasa Rusia yang memang sulit karena sangat berbeda dengan huruf latin, baik pengucapan maupun penulisan sehingga benar-benar seperti anak TK yang baru mengenal huruf dan angka, ujarnya.

Andrea Hirata perna berkata “Kalau bisa bertahan hidup di Rusia, maka kita akan bisa hidup di mana saja”. Mungkin kutipan tersebut benar. Mengapa? karena kita akan hidup di sebuah negara yang sangat dingin, sistem pendidikan yang berbeda dengan Indonesia, orang-orangnya yang memiliki beribu sifat dan watak, dan belum lagi hal-hal kecil yang kita anggap biasa di Indonesia, menjadi sesuatu yang berharga dan di rindukan jika di Rusia.
Selain itu negara Rusia aturan imigrasinya sangat ketat, tidak seperti negara lainnya. Mereka tidak membolehkan bagi pemegang visa student seperti Dio untuk bekerja walaupun hanya paruh waktu atau part time. Jika kita melanggar maka siap-siap kita di deportasi atau jika tidak ingin di deportasi harus membayar denda yang sangat besar dan ini menjadi salah satu kendala terbesar bagi Dio Rezza Baskara ASN Dishub OKU.
Akan tetapi saya tetap fokus untuk menyelesaikan studi ini yang Insya Allah tahun 2021 bulan September kembali ke Pemkab OKU. Dio juga mohon doa dari semua pihak agar dia dilancarkan dalam menempuh pendidikan di Rusia agar bisa menjadi “Agent of Change Indonesia, untuk Indonesia Emas 2045”. Pungkasnya (dio/yudi)