Wewey Wita Peraih Medali Emas Ke-30 Cabor Pencak Silat, Keturunan Tionghoa Dari Keluarga Yang Kurang Mampu

oleh -65 views
Wewey Wita peraih medali emas Asian Games

JAKARTA-Mungkin belum banyak yang tahu bahwa Wewey Wita, peraih medali emas ke-30 bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2018, adalah pesilat putri keturunan Tionghoa dari keluarga yang kurang mampu. Pada mulanya keluarga Wewey berkecukupan. Namun, suatu ketika ayahnya, yang berbisnis ditipu rekannya sendiri akhirnya bangkrut. Pihak Bank menyita semuanya. Ayahnya memboyong seluruh keluarga ke kampung halaman Ibunya di Ciamis. Ayahnya enggan menumpang di rumah nenek karena ia tidak mau jadi beban dan ingin mandiri.

Ayah Wewey Wita bernama asli Yeo Meng Tong. Ketika ia masih jaya, orang-orang memanggilnya Mr. Tong, begitu jatuh miskin, orang seenaknya menyapanya Atong. Terkadang malah Otong. Itu membuat Wewey jengkel. Bagaimana pun, Wewey selalu  beruntung memiliki ayah yang tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak-anaknya bekerja buat meringankan bebannya. Bahkan hal-hal sepele seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Saat kejuaraan Pencak Silat Asan Games

Ayahnya menamai Wewey Wita yakni Yeo Chuwey, dalam bahasa Indonesia, artinya “nomor satu yang paling bersinar”. Sayang, kegaduhan politik di tanah air waktu itu membuat ayahnya berpikir nama Tionghoa hanya akan membuat hidupnya makin sulit. Maka, di akta kelahirannya tertera nama utama yang lebih Indonesia ”Wewey Wita”, ujarnya.

Olahraga Pencak Silat cenderung lebih dekat dengan identitas ke Indonesiaan yang dibatasi pada satu entitas yakni etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Tentu berbeda kebiasaan olahraga etnis Tionghoa misalnya Kungfu, Wushu, Barongsai, Bulu tangkis dan lainnya.  Pencak Silat sendiri tak melahirkan sekat-sekat itu. Pembatasan, kukira, hanya ada dalam kepala kita. Pencak Silat, seperti Indonesia, memeluk siapa saja yang mencintainya, termasuk Wewey.

Wewey sendiri tak menyangka Silat bisa jadi bagian dari hidupnya. Memang semasa kecil ia biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ektrakurikuler olahraga, mulai dari Voli dan Basket hingga Karate dan Taekwondo. Ibu selalu memaksanya menampakkan sisi feminin, sampai-sampai dia pernah memaksa ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis. Ia terpilih sebagai juara dua.

Baca Juga :   Jalan Cor Beton Amblas di Desa Kasai, Sungai Rotan Muara Enim
Wewey Wita Pesilat andalan Indonesia

Dalam sebuah pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: “Wewey, Bapak sudah daftarkan kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan, tentu Wewey kaget. Tanding apa, Pak kataku. “Pencak Silat”. Mau membantah takut durhaka. Tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu harus mencari ke mana. Musuhku adalah atlet-atlet pencak yang berpengalaman dan punya jam terbang, ia menang dengan skor 3-2 dalam pertandingan pertama berkat teknik tendangan Karate. Tendang, tendang, dan tendang.

Wewey gagal menjadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namanya disebutkan di podium. Sejak saat itulah ia diminta guru-guru menggeluti Pencak Silat secara serius. Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu diikutinya. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda). Dalam sebuah kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur agar tak melebihi batasan.

Wewey Wita dengan segudang medali

Wewey malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan ia baru 14 tahun. Kalau kamu siap, gampang, semuanya bisa diurus, kata pelatih waktu itu. Yang diinginkannya hanya ikut kejuaraan dan berprestasi. Akhirnya ia memenangkan medali emas. Kabar soal pencurian umur yang dilakukannya pun bocor dan jadi perbincangan. Namun, orang-orang sepertinya malah bangga sebab seorang atlet berusia dini mampu mengalahkan atlet-atlet yang lebih senior. Dari titik itulah karier Wewey sebagai atlet Pencak Silat melejit. Dan kemudian bergabung dengan PPLP di Bandung.

Saat di Bandung, kadang tak bisa makan dengan nyaman, terpikir apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Wewey merasa telah meninggalkan keluarga dalam situasi sulit. Namun, pilihan merantau ke Bandung harus diambil. Hanya dari sanalah berharap bisa membantu keluarga menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenangannya di berbagai kejuaraan. Wewey sadar bahwa menjadi atlet bukan jaminan untuk masa depan. Wewey akan berhenti, jika sudah memberikan prestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku “Indonesia”. Pungkasnya (Wewey Wita/int)