Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital, Harus Bijak & Berpikir Sebelum Posting di Medsos

oleh

BANYUASIN,Samudra.News-Sesuai dengan arahan Bapak Presiden Republik Indonesia tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital maka Kementerian Komunikasi dan Informatika selain meningkatkan infrastruktur digital, juga melakukan program pengembangan sumber daya manusia talenta digital.

Kemkominfo melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021. Kegiatan berlangsung hari Senin (2/8/2021) pukul 09.00 WIB.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Internet saat ini sudah semakin masif dan pentingnya peningkatan kemampuan dan pemahaman masyarakat dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),

Kemudian internet yang benar melalui implementasi program literasi digital di daerah. Berkenaan dengan hal tersebut, Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kabupaten/Kota dari Provinsi Aceh hingga Provinsi Lampung.

Adapun kegiatan mengangkat empat (4) pilar digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital dimana masing masing kerangka mempunyai beragam tema.

Sebagai Keynote Speaker, Bupati Kabupaten Banyuasin  yaitu, H. Askolani ,SH, MH memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Bp. Presiden RI, Bapak Jokowi juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Pemaparan pertama oleh MIA MARCELLINA , seorang Tenaga Didik & Roland International Artist yang membawakan  pilar  KEAMANAN DIGITAL dengan tema “PENTINGNYA PERLINDUNGAN HAK PATEN DI RANAH DIGITAL”

Baca Juga :   Dr. Drs. H. Achmad Tarmizi, SE, MT, MSi, MH Dikukuhkan Sebagai Ketua DPD Perhiptani OKU

Mia menjelaskan apa itu kekayaan intelektual, yaitu suatu karya yang lahir dari kemampuan olah pikir manusia berupa karya karya dibidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan satra . Jenis jenis kekayaan intelektual antara lain hak cipta, hak kekayaan industri yang salah satunya adalah hak paten.

Pentingnya melindungi hak paten atas karya seni di ranah digital agar mendapatkan hak moral dan diakui sebagai pencipta karya serta bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Untuk mengajukan hak paten dapat diajukan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenhunkam.

Dilanjutkan dengan pilar KECAKAPAN DIGITAL, oleh ARIZONA, M.Pd, anggota ABKIN dengan membawa tema “ETIKA BERJEJARING : JARIMU HARIMAUMU”.

Arizona membeberkan fakta tentang netizen Indonesia bahwa netizen Indonesia paling tidak sopan se Asia Tenggara (sumber : Digital Civility Index 2020). Penyebab neitzen Indonesia paling buruk menurut jatimtimes.com antara lain adanya diskriminasi, ujaran kebencian, penyebaran hoax, penipuan online yang makin menjamur dan adab berinteraksi yang buruk di media sosial.

Selanjutnya Arizona menjelaskan tentang apa itu komentar negatif, yaitu komentar dengan menggunakan kata kasar, mematahkan impian, mendoakan yang tidak baik serta membanding bandingkan. Timbulnya komentar negatif diantaranya adanya pikiran negatif, cari perhatian, spontan, tidak tahu cara mengkritik dan iseng saja. Ada tips untuk mencegah semuanya ada 4K yaitu  Kritis, Kreatifitas, Keamanan dan Kolaburasi.

Pilar BUDAYA DIGITAL  dibawakan oleh WENI PEBRIANI, Social Product Partnership KITABISA, dengan materi “INTERNET ADDICTION : HOW MUCH IS TOO MUCH”.  Weni menjelaskan data dari APJII 2018 bahwa orang Indonesia rata rata menghabiskan waktu menggunakan internet selama 8 jam 36 menit, mengakses konten selama 2 jam 52 menit.

Dan video adalah yang paling banyak di akses yaitu mencapai 98% disusul oleh streaming 50% dan gaming 46%. Kesimpulannya bahwa internet addiction adalah sindrom dengan menghabiskan waktu dan tidak mampu mengontrol saat online.

Baca Juga :   ASN Ketempat Kampanye Tidak Dilarang, Namun Dengan Catatan Tidak Aktif

Jenis kecanduan internet menurut Weni antara lain sexsual addiction, relational addiction (chating, blog), shopping, information overload (surfing website & searching data), dan computer addiction (obsesi game dan program). Akan timbul gejala psikologis dan fisik karena kecanduan internet “too much”. Tips yang diberikan Weni antara lain atur waktu dan kontrol diri, miliki hobi, perbanyak interaksi dengan lingkungan sekitar, atur prioritas waktu, gunakan waktu dengan keluarga dan kembali ke dunia nyata.

Narasumber terakhir oleh ASEP MUHAMMAD LUKMAN, S.Pd.i., S.H seorang Konsultan Digital Marketing, yang memaparkan di pilar ETIKA DIGITAL dengan tema “PENTINGNYA MEMILIKI DIGITAL SKILLS DI MASA PANDEMI COVID 19 ”. Asep di awal pemaparannya memberikan penjelasan bahwa ada 6 digital skill yang dibutuhkan saat ini, yaitu Digital Marketing, Data Analyitc, UI/UX Designer, Software Engineering, Cyber Security dan Content Creator.

Ada 3 cara sukses di media sosial yaitu Narsis, Eksis dan Laris serta interaksi ( like, comment, share & save dan inbox atau DM). Sementara tips untuk SEO antara lain username /URL, judul, caption, hastag, keyowrd dan interaksi. Untuk Personal Branding terdapat passion, peluang, kemampuan dan sebagainya.

Key Opinion Leader oleh ALIAH SUYATI seorang Influencer yang mengakhiri webinar dengan memberikan poin poin pembahasan dari para narasumber, antara lain cukup penting mempunyai digital skill pada masa sekarang, dan bagaimana hak paten kita di ranah digital seperti yang dibahas oleh Mia.

Kita harus dapat mengontrol diri dalam beraktifitas di internet agar tidak menjadi kecanduan (addictive) dan data yang mengejutkan bahwa netizen Indonesia ternyata adalah yang paling tidak sopan se Asia Tenggara, maka lebih bijak dan berpikir sebelum memposting sesuatu di dunia maya (Red).